sadasdfsdsd
Jumat, 16 November 2012
Sabtu, 22 September 2012
Rabu, 05 September 2012
Unsulbar Segera Jadi Universitas Negeri
Gubernur Sulbar Resmikan Gedung UT
MAJENE, UPEKS–Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar), Anwar Adnan Saleh didampingi Bupati Majene, Kalma Katta bersama Kepala UPBJJ Majene, Arifin menghadiri acara peresmian gedung baru Unit Program Belajar Jarak Jauh (UP-BJJ) Universitas Terbuka Majene Sulawesi Barat yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman.
Acara peresmian gedung UPBJJ-UT dilakukan serentak Nasional oleh Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Musliar Kasim melalui telekonfrens langsung dari Auditorium Gedung Universitas Terbuka Pusat Jakarta. Gubernur Anwar Adnan Saleh pada acara dialog dengan Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Musliar Kasim menjelaskan, kehadiran UT di Majene Sulawesi Barat (Sulbar) merupakan jawaban terhadap permasalahan yang dialami Pemerintah Provinsi Sulbar.Selajutnya Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh kepada Wamendiknas juga menyampaikan, Pemerintah Sulawesi Barat tetap memberikan dorongan dan mendukung kepada UT di Majene. “Kami bersama Pemerintah Kabupaten Majene tetap berkomitmen agar tetap sama dengan UT di Seluruh Indonesia, meskipun salah satu provinsi termuda di Indonesia.
Kepada Bapak Menteri dalam kesempatan ini, kami menyampaikan harapan dan titipan dari pemerintah bersama masyarakat Sulawesi Barat agar tahun ini Universitas Sulawesi Barat dapat diresmikan penegriannya,” jelas Anwar. Menanggapi penyampaian Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh, Wamendiknas Musliar Kasim melalui telekonfrensnya menyampaikan apa yang menjadi keinginan Gubernur Sulbar agar Unsulbar tahun ini dapat diresmikan penegriannya.
“Apa yang disampaikan gubernur kami sudah tangkap dengan baik termasuk permintaan yang terakhir tadi agar tahun ini Unsurbar dapat diresmikan penegriannya. Saya langsung menanyakan kepada Setditjen yang duduk berdampingangan dengan saya yang bertanggungjawab mengurus pendiriannya dan penegerian Unsulbar, apa bisa tahun ini Unsulbar diresmikan, beliau menjawab bisa Inya Allah.
Nanti pak Menteri mencari waktu untuk datang ke Majene,” terang Wamendikans. Wamendiknas juga menyampaikan kepada Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh dengan diresmikan Penegriannya Unsulbar perhatian kepada UT tidak berkurang. “Jangan sampai nanti setelah Universitas Sulawesi Barat diresmikan, perhatian kepada UT berkurang, kalau perlu perhatiannya kepada UT ditingkatkan,” katanya.
Sumber : http://www.ujungpandangekspres.co
Rabu, 29 Agustus 2012
Unsulbar dan STAI Diharapkan Jadi PTN
Mamuju (ANTARA News) - Wakil Ketua DPRD Sulawesi Barat Arifin Nurdin berharap Universitas Sulawesi Barat dan Sekolah Tinggi Agama Islam di Kabupaten Majene segera dijadikan perguruan tinggi negeri untuk mengoptimalkan penyelenggaraan perkuliahan.
Arifin Nurdin menyampaikan harapan itu saat menerima kunjungan dua pejabat Lemhanas Brigjen Azis W dan Kolonel M. Sahril di gedung DPRD Sulbar, Rabu.
Menurutnya, kedatangan dua pejabat Lemhanas ini untuk melakukan koordinasi terkait rencana kungjungan kerja ke Mamuju pada 10 September 2012.
"Pejabat Lemhanas telah mengagendakan melakukan kungjungan ke Mamuju guna menyerap aspirasi masyarakat yang ada di daerah ini," kata dia.
Karena itu kata Arifin Nurdin, kedatangan Lemhanas ini ke Mamuju diharapkan mampu memberikan masukan ke pemerintah pusat terkait upaya percepatan perubahan status Unsulbar dan STAI menjadi PTN.
"Kami harap dua perguruan tinggi di Majene ini segera dikeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) untuk menjadikan PTN minimal 2013 sudah ada realisasi,"kata Arifin yang juga politisi PDK daerah pemilihan Majene.
Ia mengatakan, saat ini kondisi proses perkuliahan khususnya di Unsulbar tidak berjalan maksimal sehingga dianggap perlu untuk segera ditingkatkan statusnya menjadi PTN.
"Ribuan mahasiswa Unsulbar saat ini tidak mengikuti proses perkuliahan secara optimal. Ini akibat beberapaa hal khususnya pengelolaan Manajemen Unsulbar sendiri," katanya.
Arifin Nurdin menyampaikan harapan itu saat menerima kunjungan dua pejabat Lemhanas Brigjen Azis W dan Kolonel M. Sahril di gedung DPRD Sulbar, Rabu.
Menurutnya, kedatangan dua pejabat Lemhanas ini untuk melakukan koordinasi terkait rencana kungjungan kerja ke Mamuju pada 10 September 2012.
"Pejabat Lemhanas telah mengagendakan melakukan kungjungan ke Mamuju guna menyerap aspirasi masyarakat yang ada di daerah ini," kata dia.
Karena itu kata Arifin Nurdin, kedatangan Lemhanas ini ke Mamuju diharapkan mampu memberikan masukan ke pemerintah pusat terkait upaya percepatan perubahan status Unsulbar dan STAI menjadi PTN.
"Kami harap dua perguruan tinggi di Majene ini segera dikeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) untuk menjadikan PTN minimal 2013 sudah ada realisasi,"kata Arifin yang juga politisi PDK daerah pemilihan Majene.
Ia mengatakan, saat ini kondisi proses perkuliahan khususnya di Unsulbar tidak berjalan maksimal sehingga dianggap perlu untuk segera ditingkatkan statusnya menjadi PTN.
"Ribuan mahasiswa Unsulbar saat ini tidak mengikuti proses perkuliahan secara optimal. Ini akibat beberapaa hal khususnya pengelolaan Manajemen Unsulbar sendiri," katanya.
Minggu, 12 Agustus 2012
Kisah Pahlawan
Assalamualaikum Wr. Wb. Sehubungan dengan Hut Proklamasi RI yang Ke- 67, kali ini tim redaksi menyiapkan artikel-artikel yang memuat tentang kisah-kisah pahlawan Nasional RI dalam merebut dan mempertahankan NKRI, semoga dengan membaca artikel tersebut rasa Nasionalisme kita semakin membara dan dapat menteladani sikap dan perilaku para pendahulu kita tersebut.
Selama 62 tahun Indonesia merdeka, nama Tuanku Imam Bonjol hadir di ruang publik bangsa: sebagai nama jalan, nama stadion, nama universitas, bahkan di lembaran Rp 5.000 keluaran Bank Indonesia 6 November 2001.
Part I : Tuanku Imam Bonjol
Tuanku Imam Bonjol (TIB) (1722-1864), yang diangkat sebagai pahlawan nasional berdasarkam SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, 6 November 1973, adalah pemimpin utama Perang Paderi di Sumatera Barat (1803-1837) yang gigih melawan Belanda.
Selama 62 tahun Indonesia merdeka, nama Tuanku Imam Bonjol hadir di ruang publik bangsa: sebagai nama jalan, nama stadion, nama universitas, bahkan di lembaran Rp 5.000 keluaran Bank Indonesia 6 November 2001.Namun, baru-baru ini muncul petisi, menggugat gelar kepahlawanannya. TIB dituduh melanggar HAM karena pasukan Paderi menginvasi Tanah Batak (1816-1833) yang menewaskan “jutaan” orang di daerah itu (http://www.petitiononline. com/bonjol/petition.html).
Kekejaman Paderi disorot dengan diterbitkannya buku MO Parlindungan, Pongkinangolngolan Sinamabela Gelar Tuanku Rao: Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, 1816-1833 (2006) (Edisi pertama terbit 1964, yang telah dikritisi Hamka, 1974), kemudian menyusul karya Basyral Hamidy Harahap, Greget Tuanku Rao (2007).
Kedua penulisnya, kebetulan dari Tanah Batak, menceritakan penderitaan nenek moyangnya dan orang Batak umumnya selama serangan tentara Paderi 1816-1833 di daerah Mandailing, Bakkara, dan sekitarnya (Tempo, Oktober 2007).
Mitos kepahlawanan
Ujung pena kaum akademis harus tajam, tetapi teks-teks hasil torehannya seyogianya tidak mengandung “hawa panas”. Itu sebabnya dalam tradisi akademis, kata-kata bernuansa subyektif dalam teks ilmiah harus disingkirkan si penulis.
Setiap generasi berhak menafsirkan sejarah (bangsa)-nya sendiri. Namun, generasi baru bangsa ini—yang hidup dalam imaji globalisme—harus menyadari, negara-bangsa apa pun di dunia memerlukan mitos-mitos pengukuhan. Mitos pengukuhan itu tidak buruk. Ia adalah unsur penting yang di-ada-kan sebagai “perekat” bangsa. Sosok pahlawan nasional, seperti Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Sisingamangaraja XII, juga TIB, dan lainnya adalah bagian dari mitos pengukuhan bangsa Indonesia.
Jeffrey Hadler dalam “An History of Violence and Secular State in Indonesia: Tuanku Imam Bondjol and Uses of History” (akan terbit dalam Journal of Asian Studies, 2008) menunjukkan, kepahlawanan TIB telah dibentuk sejak awal kemerdekaan hingga zaman Orde Baru, setidaknya terkait tiga kepentingan.
Pertama, menciptakan mitos tokoh hero yang gigih melawan Belanda sebagai bagian wacana historis pemersatu bangsa.
Kedua, mengeliminasi wacana radikalisme Islam dalam upaya menciptakan negara-bangsa yang toleran terhadap keragaman agama dan budaya.
Ketiga, “merangkul” kembali etnis Minang ke haribaan Indonesia yang telah mendapat stigma negatif dalam pandangan pusat akibat peristiwa PRRI.
Kita tak yakin, sudah adakah biji zarah keindonesiaan di zaman perjuangan TIB dan tokoh lokal lain yang hidup sezaman dengannya, yang kini dikenal sebagai pahlawan nasional.
Kita juga tahu pada zaman itu perbudakan adalah bagian sistem sosial dan beberapa kerajaan tradisional Nusantara melakukan ekspansi teritorial dengan menyerang beberapa kerajaan tetangga. Para pemimpin lokal berperang melawan Belanda karena didorong semangat kedaerahan, bahkan mungkin dilatarbelakangi keinginan untuk mempertahankan hegemoni sebagai penguasa yang mendapat saingan akibat kedatangan bangsa Barat. Namun, mereka akhirnya menjadi pahlawan nasional karena bangsa memerlukan mitos pemersatu.
Bukan manusia sempurna
Tak dapat dimungkiri, Perang Paderi meninggalkan kenangan heroik sekaligus traumatis dalam memori bangsa. Selama sekitar 20 tahun pertama perang itu (1803-1821) praktis yang berbunuhan adalah sesama orang Minangkabau dan Mandailing atau Batak umumnya.
Pada 21 Februari 1821 mereka resmi menyerahkan wilayah darek (pedalaman Minangkabau) kepada Kompeni dalam perjanjian yang diteken di Padang, sebagai kompensasi kepada Belanda yang bersedia membantu melawan kaum Paderi. Ikut “mengundang” sisa keluarga Dinasti Pagaruyung di bawah pimpinan Sultan Muningsyah yang selamat dari pembunuhan oleh pasukan Paderi yang dipimpin Tuanku Pasaman di Koto Tangah, dekat Batu Sangkar, pada 1815 (bukan 1803 seperti disebut Parlindungan, 2007:136-41).
Namun, sejak awal 1833 perang berubah menjadi perang antara kaum Adat dan kaum Agama melawan Belanda. Memorie Tuanku Imam Bonjol (MTIB)— transliterasinya oleh Sjafnir Aboe Nain (Padang: PPIM, 2004), sebuah sumber pribumi yang penting tentang Perang Paderi yang cenderung diabaikan sejarawan selama ini—mencatat, bagaimana kedua pihak bahu-membahu melawan Belanda.
Dalam MTIB, terefleksi rasa penyesalan TIB atas tindakan kaum Paderi atas sesama orang Minang dan Mandailing. TIB sadar, perjuangannya sudah melenceng dari ajaran agama. “Adapun hukum Kitabullah banyaklah yang terlampau dek oleh kita. Bagaimana pikiran kita?” (Adapun banyak hukum Kitabullah yang sudah terlangkahi oleh kita. Bagaimana pikiran kalian?), tulis TIB dalam MTIB (hal 39).
Penyesalan dan perjuangan heroik TIB bersama pengikutnya melawan Belanda yang mengepung Bonjol dari segala jurusan selama sekitar enam bulan (16 Maret-17 Agustus 1837)—seperti rinci dilaporkan De Salis dalam Het einde Padri Oorlog: Het beleg en de vermeestering van Bondjol 1834-1837: Een bronnenpublicatie [Akhir Perang Paderi: Pengepungan dan Perampasan Bonjol 1834-1837; Sebuah Publikasi Sumber] (2004): 59-183—mungkin dapat dijadikan pertimbangan untuk memberi maaf bagi kesalahan dan kekhilafan yang telah diperbuat TIB.
Tunggu kisah-kisah Lainnya... (Tim Red)
Selasa, 10 Juli 2012
Sejarah KSR-PMI Unit Universitas Sulawesi Barat

SEJARAH PEMBENTUKAN KSR-PMI UNIT UNSULBAR
Berdirinya UKM-KSR PMI UNIT UNIVERSITAS SULAWESI BARAT itu disebabkan adanya keprhatinan mahasiswa terhadap problema sosial yang terjadi dimasyrakat (bencana).dalam pembentukan ini penulis akan menceritakan dan menguraikan tentang Sejarah Pembentukan UKM KSR-PMI UNIT UNIVERSITAS SULAWESI BARAT.
Muh.Sibli (Sospol) adalah Lider atau pelopor Pembentukan UKM-KSR PMI UNIT UNIVERSITAS SULAWESI BARAT,pada tahun 2008 Muh.Sibli memanggil bebrapa mahasiswa untuk memotoring pembentukan KSR-UNSULBAR tersebut,tapi itu hanya sia-sia belaka karna tidak adanya kesadaran para mahasiswa dan kurangnya anggota untuk mau bergabung serta tidak ada kepedulian terhadap organsasi ( Bermasa Bodo ).
Dengan tidak putus asa pada tahun 2009 pada saat penerimaan mahasiswa baru di Uiversitas sulawesi barat Muh.Sibli melakukan seosialisasi terhadap anggota yang memang punya dasar dalam kepalang merahan,disaat itu pula dia membahas masalah pembentukan KSR-UNSULBAR,dengan jeri paya Muh.Sibli memanggil sodara Kaslan (sospol ) dan sodara Saddam (Sospol) untuk membicarakan pembentukan organisasi terebut,tapi takdir berkatalain usha dan semangat yang dilakukan Muh.Sibli itu sia-sia karna kaslan Dan Saddam punya kesibukan lain.
Dengan usaha,kesabaran serta jiwa kerelawanannya yang selalu ditanamkan dalam diri Muh.Sibli untuk mau membagun organasiasi Kemanusiaan (KSR-UNSULBAR) Dikampus UNSULBAR,selama 1 tahun dia punya cita-cita untuk membangun organisasi tersebut tidak pernah tercapai.
Muh.Sibli sudah lama bergabung dalam organisasi KSR Cab.Majene,pada saat itu dia punya pemikiran yang mungkin lebih jenius karna niatnya yg selama ini mau membangun KSR UNSULBAR tidak bisa tercapai Dengan Ridho ALLAH S.W.T Muh.Sibli memanggil bebrapa teman-temanya yang tergabung dalam organisasi KSR Cab.Majne yang kuliah di Universitas Sulawesi Barat,pada hari Sabtu tepatnya jam 10:00 tahun 2009 di sekeret BEM unsulbar Muh.Sibli (sospol),Muhammad.Arfandy (Hukum),Fajriah (T.Sipil),Astri Devianti (T.Sipil),Nasrul N (Manejmen) sedang malakukan percakapan untuk membentuk membentuk Organisasi UKM-KSR PMI UNIT UNIVERSITAS SULAWESI BARAT.
Pada saat itulah sudah ada komitmen dari 5 orang tersebut untuk melakukan langkah-langkah yang harus dilakukan berupa :
1.Memanggil teman-teman untuk bergabung dalam organiasi yang punya dasar tentang palang merah diwaktu SMA.
2.Menetapakan Rapat pembentukan organisasi
3.Muhammad.Arfandy Diangakt Sebagi ketua Sementara Dan Nasrul N di jadikan Sekertaris.
4.Membuat Persuratan Dalam pembentukan Organisasi
Dengan Seiring waktu yang berjalan berjalannya waktu usaha yang kami lakukan untuk merekrut dan memanggil teman untuk bergabung serta mengedarkan undangan untuk menghadiri Pembentukan Organisasi UKM-KSR PMI UNIT UNIVERSITAS SULAWESI BARAT itu berjaln dengan baik dan lancar.
Tepatnya pada tanggal 20-Desember-2010 Jam 10:00 atas Ridho ALLAH S.W.T. dan kekompakan teman-teman rapat berlangsung dengan baik serta ditetapkan pula pengurus UKM-KSR PMI UNIT UNIVERSITAS SULAWESI BARAT 2010 sebagai berikut :
Susunan Pengurus
Unit Kegiatan Mahasiswa
Korps Sukarela Palang Merah Indonesia
Unit Universitas Sulawesi Barat
Ketua : Muhammad Arfandi
Wakil Ketua : M.Suaib Nur
Sekretaris : Nasrul Nasir
Wakil Sekretaris : Dian Fitri Sabrina
Bendahara : Fajriah
Wakil Bendahara : Astri Devianti
BIDANG- BIDANG
* Bidang Pendidikan dan Pelatihan * Bidang Penanggulangan Bencana
Kabid : Muhammad Sibli Kabid : Asnawi
Aggota : Abdul Hafid Anggota : Ardiansyah
Mamad Setiawan Abu bakar
Alfian Widianto
Eka yanti Ayu Lestari SaddamHusain
St. Wahdania Hamarong Nur lailah
* Bidang pengabdian masyarakat & * Bidang logistik
Dan pengembangan organisasi Kabid : Usman
Kabid : Satriawan basri Anggota : Nursamawati
Anggota: Nurfitrah Akbar Mahmud
Iwan Kifli
Badaruddin Muh.Ihram
Abd.Hamid Asrianto
Asmin
Dengan selesainya Pembentukan pengurus kami pun melakukan pembahasan program kerja yang dimana untuk menguatkan kapasitas dan penambahan anggota UKM-KSR PMI UNIT UNIVERSITAS SULAWESI BARAT kami pun menyepakati untuk melakukan Peneriamaan Anggota baru ( DIKSAR 1 ),sekitar jam 11:30 rapat pun selsai dengan baik.
Pada tanggal 29-januari-2011 Pihak kampus mengadakan pelantikan kepada seluruh pengurus Unit Kegiatan Mahasaiswa (UKM) Universitas Sulawesi Barat yang ditempatkan di Boyang Assamalewuang Majene.
"INILAH SEJARAH PEMBENTUKAN ORGANIASI UKM KSR-PMI UNIT UNIVERSITAS SULAWESI BARAT"
( TETAP TANAMKAN JIWA-JIWA KEMANUSIAAN PADA DIRI KITA )
____SALAM KEMANUSIAAN___
Ttd.Muhammad.Arfandy
Senin, 04 Juni 2012
Welcome
Selamat datang di Original Website UKM KSR - PMI Unit Universitas Sulawesi Barat ...
-KSR-PMI UNIT UNSULBAR-
TETAP TANAMKAN JIWA-JIWA KEMANUSIAN DALAM DIRI KITA DAN TETAP JUNJUNG TINGGI 7 PRINSIP DASAR GERAKAN PALANG MERAH DAN BULAN SABIT MERAH INTERNASIONAL....
Mohon maaf atas ketidaknyamanan anda Web ini masa dalam pengembangan.-KSR-PMI UNIT UNSULBAR-
Senin, 21 Mei 2012
SUSUNAN PENGURUS
SUSUNAN PENGURUS
UNIT KEGIATAN MAHASISWA
KORPS SUKARELA
PALANG MERAH INDONESIA
UNIVERSITAS
SULAWESI BARAT PERIODE 2010-2011
I.
Pelindung : 1. Ketua Yapisbar.
2. Rektor Unsulbar.
II.
Penasehat : 1. Pembantu Rektor I Unsulbar.
2. Pembantu Rektor III Unsulbar.
3. Pengurus PMI prov.Sulbar.
III.
Pengarah
: 1. Koordinator Kemahasiswaan
Unsulbar.
2. pengurus PMI Kab.Majene.
3 .Abdul Wahab,S.Si,.M.si
IV.
Pengurus
Ketua : Muhammad Arfandi
Wakil Ketua : M.Suaib Nur
Sekretaris : Nasrul Nasir
Wakil sekretaris : Mahayuddin
Bendahara : Fajriah
Wakil Bendahara : Astri Dewanta
V.
Bidang-bidang
|
1.
Bidang pendidikan dan Pelatihan
Koordinator : Muhammad Sibli
Anggota : Awaluddin
Mamad
Setiawan
Rosita
Jumiati
Wahyuni
|
2.
Bidang
Penanggulangan Bencana
Koordinator : abdul hafid
Anggota : Bahtiar
Hawa
Rahmatia
Syamsul
Asnawi
|
|
|
3.
Bidang Pengabdian Masyarakat dan Pengembangan Organisasi
Koordinator : Rudiman
Anggota : Iwan Firmansyah
Badaruddin
Abd.Hamid
St.Khumairah
Andi Akhyar
|
4.
Bidang Logistik
Koordinator : Akbar
Anggota : Hasrah
Usman
Marliah
St.Hudiah
Mustafa
Zulkifli
|
05.14
KSR-PMI UNIT UNSULBAR


